
Jika perilaku dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini, karena tanpa agama saja orang bias berbuat baik. Tidak usah jauh2, pasti kita sering menemukan diantara teman atau tetangga kita perilakunya baik, ia mengaku beragama tapi tidak pernah shalat/ ke gereja, nyatanya perilakunya lebih baik dari umat islam yang rajin beribadah .
Sebenarnya semua manusia diciptakan dalam keadaan suci (fitrah). Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiriyang membuat seorang manusia menjadi jahat dan berperilaku buruk. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : “sesungguhnya aku menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan hanif ( lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan untuk menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka”(HR Muslim). Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,
Namun bukan untuk menyatakan bahwa perilaku yang tidak baik tidak penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik daripada non-islam yang baik hati. Tetapi agar kita menyadari bahwa Tuhan Tidak menuntut dari manusia sekedar perilaku yang baik, ada hal lain yang lebih utama daripada perilaku.
Saat Rasulullah sedang thawaf ia beliau bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Rasullullah bertanya “ knapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu” Saya mempunyai seorang ibu . Saya sangat mencintai dia. Saya selalu menggendongnya. Ya Rasulullah apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang berbakti kepada orang tua?” Nabi SAW sangat terharu mendengarnya. Sambil memeluk anak itu ia berkata : “Sunnguh Allah ridlo kepadamu, kamu anak yan g soleh, anak yang berbakti, tapi ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu.” Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya. Kita merasa sudah cukup, tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua terhadap anaknya jauh lebih besar daripada yang dibayangakan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain yang ahrus kita lakukan untuk memperbanayk balas budi kita pada orang tua kita. Diantaranya dengan menjadi anak yang soleh dan selalu mendoakan oaring tua kita.
Untuk membalas budi orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi membalas kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih saying kepada orang tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, lidah yang mampu merasaakan kelezatan makanan, yang memberi kita udara secara gratis.
Rasulullah bersabda , “ Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga.” Lalu para sahabat bertanya “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup.” Lalu para sahabat kembali bertanya “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” Jawab Rasulullah : “kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata.’ Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surge tapi untuk mendapatkan rahmat dari Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapat kan surge Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita ( walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapaun yang kiuta lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surge yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Apakah Benar Anggapan Bahawa sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Akan Membuat Allah Tidak Mungkin Tega Menghukum Orang Yang Baik Hati ??
Di akhirat kelak orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal kebaikannya ke hadapan Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, surat AL Furqan ayat 23,”Dan kami hadapai segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.
Agar doa, ampunan, amal ibadah kita bisa di terima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui perenungan dan makhifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apasebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karna karya-Nya ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan ia telah memperkenalkan diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan mengenal Allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang, demikian sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan, amal ibadah kita dan kebaikan kita dibalas dengan surge yang luar biasa nikmatnya. Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami mengapa Allah mengancam orang-orang yang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya dengan neraka.
Aqidah adalah hal pokok yang membedakan agama islam dengan agama lain. Aqidah adalah fondasi bangunan seorang umat muslim, ibadah adalah dindingnya, lalu akhlaq adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang muslim. Tanpa ibadah yang sesuai syariah islam, ia pun belum sempurna dikatakan sebagai sebuah bangunan yang bernama muslim. Demikian pula atap yang bernama akhlaq, bangunan yang bernama muslim akan mudah rusak oleh hujan dan panas. Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini ( aqidah, ibadah, dan akhlak) secara lengkap tak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah, maka kekallah ia di neraka, bila ibadah dan akhlaq buruk maka ia ‘mungkin’ masih berpeluang masuk surge setelah di ‘cuci’ dulu di neraka.
Semoga kita tidak termasuk sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung kita masih hidup di dunia in, semoga kita di beri ilmu oleh Allah SWT mengenai kedasyatan akhirat dan neraka.
