Blogger Widgets

Selasa, 14 Juni 2011

Merekahnya Bunga Cinta

“Nara,.!!Nara,..!!,coba ke sini sebentar.”
“Iya Nek” dengan segera ku keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan buru-buru.
“Kami punya berita bagus hari ini.” Kata nenek ku tersenyum bahagia
“Ah,.Nenek ini kebanyakan bosa-basi, langsung saja. Ni Nara, Radif mau mampir kesini.” Jelas kakek
“Oh ya,..??kapan??”
“Hari ini dia akan datang.”
“Kenapa tetap diam??Ayoo kita bersihkan rumah ini..!!” ajak kakek dengan penuh semangat
Aku meloncat-loncat kegirangan. Hatiku melambung berbunga-bunga, ku menari dan menyanyi di dalam kamarku. Diriku bingung, mimpi atau nyatakah hal ini? Diriku serasa terbang di atas awan. Saking senengnya, sampai-sampai aku lupa kalau harus ikut membantu membersihkan rumah ini,..hihihi
Ku bereskan ruang tamu yang berantakan, ku sapu dan ku tata rapi. Ku bersihkan dinding-dinding kaca dengan senang hati dan tentunya dengan penuh semangat . Kakek dan nenek tak kalah ketinggalan. Walaupun mereka sudah tua renta, namun semangat mereka masih membara seperti semangat 45, .
Setelah cukup lama, akhirnya rumah ini bersih juga.Terlihat rapi, bersih, dan indah. Bunga warna-warni yang di rangkai nenek tampak anggun dan wanginya bisa menghipnotis siapa saja. Membawanya ke surga bunga. Diamana ratu bunga berlenggak lenggok mesra. Beberapa hiasan lucu dan unik menghiasi ruangan ini. Tempat ini indah, bukan karena mewah, tapi karena penataan yang hebat oleh nenekku. Cantik dan sempurna, sangat nyaman mata memandangnya.
Tak sabar, ku menunggu pangeranku. Ya pangeran, pangeran yang tampan dengan hati yang menawan dari negeri sebrang. Dia yang slalu menyayangiku, dialah malaikatku yang slalu di puja-puja hatiku.
Toktoktok,..
Toktoktok,..
Semuanya diam membisu.

Dan,……………..

“WELCOME,……..!!!!!!”
Sambilku melempar mahkota-mahkota bunga yang cantik ini, satu persatu keluar dari tempat persembunyiannya. Kayak maen petak umpet ajj, hihiihi 
“Selamat Datang Radif” ucap kakek dan nenek mengejutkan Radif
“hahaha, kalian membuatku terkejut,. Pasti ini ide dari Nara,.”
“ahh,.. ini ide dari kita semua,.” Aku jadi malu saat dia memujiku.
*******
Ku tatap wajahku di depan cermin, hati seraya gelisah namun bercampur bahagia tak menentu. Ckckck kutersenyum manis dan manja melihat wajahku, masih ada yang kurang gak ya?? Baju, sepatu dan tak lupa topi lebar berpita sudah menghiasi kepalaku.
“Nara”suara Radif mengagetkanku
“iya”
“Sudah siap??”
Ku anggukkan kepalaku dan tersenyum senang.
Setelah berpamitan, kita pun langsung ketempat tujuan. Dia gandeng tanganku, dan kita berlari senang. “Ahahaha,..” 
Inilah tujuan kita. Sebuah danau dengan air jernihnya. Sasaran kita adalah penghuninya, eeittss bukan hantu loo, tapi ikan hihihihi. Di sekeliling danau kita bias menikmati pemandangan alami yang indah. Pohon-pohon yang rimbun dan menjulang tinggi, gumpalan-gumpalan awan putih seputih cinta ini, serta air jernih dan tenang yang menghanyutkan bisa kita nikmati di sini. Bagi orang-orang yang stress, akibat kesibukan dalam bekerja, tempat ini bias jadi pilihan yang tepat.
Tak butuh waktu yang lama, kami sudah menangkap beberapa ikan. Dan aku hanya bisa menangkap seekor, itupun ukurannya sangat kecil. Aku memang tak ahli dalam memancing, hupht,. Jadi malu. Lalu kami membakar dan menyantapnya. Rasanya enak sekali. Yammy,..yammy ,.
“sepertinya kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini.” Radif menunjuk gumpalan awan hitam yang berjalan mendekati kami. Awan yang siap mengguyur tubuh kami dengan airnya. Ku anggukkan kepalaku dan kita berlari bersama.
Hujan yang deras telah di muntahkan. Angin bertiup tak beraturan dengan kencang. Petir menyambar-nyambar dan guntur yang menggelegar. Cuaca yang semula cerah, kini berubah menjadi monster yang mengerikan. Ku pegang erat tangan Radif dan terus berlari.
Petir menyambar sebuah pohon yang sangat besar. Kobaran api muncul di pucuk pohon. Lalu pohon itu tumbang dan menuju ke arah kita. Aku tercengang, mataku terbelalak dan kakiku terpaku. Radif mendorong dengan kuat badanku ke tempat yang aman. Diriku terhempas.“Nara, kamu baik-baik saja?”
Ku anggukkan kepalaku, dan mencoba tuk bangkit.
“Radiiiiiiiiiiifff,.......!!! Teriakku
Sebongkah tanah dimana kakiku berpijak, rapuh dan mengalami longsor karena terjangan air. Untung,kedua tanganku masih bisa menggapai tanah keras berbatu. Radif menggapai tanganku dan mencoba menarikku.”Nara, kamu pasti selamat”
Bawahku, jauh di bawah, kepalaku berputar-putar. Aku takut ketinggian, aku takut terjatuh di jurang yang dalam.
“Nara,..!! jangan lihat kebawah!!”
Tangan Radif mulai licin karna air hujan.
“Radif aku takut, Radif aku takut, Radif, Radif.. Radiiiiiiiiiiifffffffffff,..!!! Tubuhku tergunjang dan terhempas kedalam jurang. Terjun dengan kecepatan maksimum. Pendaratan yang tak mulus, ku berbenturan dengan batu-batu yang keras.
*******
Saat ku membuka mataku ku sudah berada di sebuah tempat yang tak kutahu. Tubuhku di penuhi dengan goresan, perih ku rasa. Ku coba untuk bangun dan berjalan meski ku tertatih-tatih. Nafasku tersengal-sengal, seakan sudah tak ada lagi oksigen di sini.Ku cari tempat yang aman. Petir-petir makin ganas dan suara guruh makin menggelegar. Aku sendirian, tak ada Radif di sini. Aku takut,hingga air mata mengalir deras di pipiku. Tanganku gemetaran dan dingin ini mulai menusuk tulangku. Aku tahu, Radif pasti akan mencariku. Dia tak akan tega membiarkanku seperti ini. Hatiku menjerit meminta tolong, tapi tiada siapa-siapa disini. Aku takut,.. 
*******
“hah” aku terkejut karena ada yang memegang bahuku. Saat ku membalikkan badanku, “Radif,.??!!” Lalu Radif memeluk diriku.
“Syukurlah aku bisa menemukanmu”
Ku peluk erat Radif. Lagi-lagi petir dan guntur terus saja menakuti kami. Tapi kini ku sedikit lega. Ada Radif di sampingku. Pelukannya mampu menghapus dingin yang mengisi ruang di hatiku. Ku masih terisak-isak di dalam dekapannya. Tak akan ku lepaskan Radif, tak akan. Tak akan hingga hatiku tenang. Melepas semua sakit yang ku rasa. Dia membelai rambutku dan menatapku penuh mesra. “Nara,stttttt... jangan sedih”. Berulang-ulang kata itu diucapkan Radif.
********
Pagi yang cerah, dimana ku tak harus berhadapan lagi dengan hujan lebat, angin yang berhembus kencang , dan petir guntur yang menakutkan, bahkan lebih menakutkan dari monster. Suasana sejuk dan damai ku rasakan. Pagi ini Radif akan pulang. Dia sudah berkemas-kemas dan siap melaju kencang meninggalkan rumah kami. Ku hampiri dirinya “Trimakasih, kau tlah menyelamatkanku”
“Iya sama-sama, aku akan merindukan tempat ini.” Tiba-tiba dia mecium keningku.
“Yeeeeee,...” terdengar sorakan dari keluargaku. Aku jadi malu,..
“ahh,.. Radif.” Ucapku dengan manja.
“Selamat tinggal semuanya,..aku pergi dulu ya”
“daaa,... hati-hati di jalan” kami melambai-lambaikan tangan kami.

SELESAI
document : http://magazineticker.blogspot.com/2012/07/cara-mudah-membuat-burung-elang.html#ixzz237GAij00