Tak ada kalimat yang terucap kecuali ayat ayatNya, yang
terlantun merdu dan syahdu. Semua anak sedang khusyu’ menyelami kitab suci yang
menyentuh hati. Dalam ketenangan ini, tiba tiba aku tersadar, 2 tahun sudah aku
mengukir sejarah di dinding dinding Darussalam, tapi ternyata ukiran itu
hanyalah ukiran debu yang akan hilang tertiup angin malam. Tak seperti Thomas
Edison yang terkenang sepanjang masa karena lampu pijarnya, ato Alexander
Graham Bell dengan pesawat teleponnya, tak ada yang istimewa dalam diriku.
Nikmat memang memandangi sebuah bukit tinggi yang penuh
dengan bunga warna warni, tapi jika kau buta, apalah yang bisa di nikmati. Aku
terlalu fokus dengan sesuatu yang tak pernah bisa kucapai bahkan
kusentuh,hingga ku mengabaikan semua hal indah di sekelilingku. Dan kini aku
baru saja tersiram air salju yang membelalakkan mataku.
Aku sudah sampai di tengah, tinggal 2 tahun lagi. Tapi apa
yang kudapat dari setengah perjalanan itu? Semua berlalu begitu saja di
depanku. Seperti orang buta yang berlalu melewati kebun bunga. Ya Allah, smua
orang begitu berharap padaku? Tapi apa yang kudapat? Apalagi ini adalah tahun
terakhir dimana aku bisa ikut berkecimpung dalam sebuah kompetisi. Ok. Tak ada
waktu tuk menyesalinya, sekarang saatnya melakukan, perubahan ya perubahan,
itulah yang harus kulakukan. Dan memanfaatkan secuil kesempatan.
**************
Waktu pun berlalu, DG gagal, KMI prima, hanya sampai semi
final. Hifdzunnusus, ah aku tak terlalu berharap pada yang satu ini. Karna aku
tahu aku lemah dalam hafalan, apalagi dalam waktu singkat dan materi segudang. Dan
HASILNYA NOL,..!! Tak apa, karna aku masih punya rencana B..!!
Jika aku tak dapat membahagiakan orang tuaku di dunia, maka
aku ingin membahagiakannya di akhirat. Aku ingin lebih dekat denganNya. Aku
ingin seperti Uwais Al-Qarni, sosok yang biasa saja di bumi tapi begitu
terkenal di masyarakat langit. Aku pernah membacanya di sebuah majalah yang
tersungkur di depan rayon, diantara
sampah sampah kering, dan dibiarkan terbuka begitu saja. Ya, Aku ingin
sepertinya.
Aku juga pernah menemukan secarik kertas tak bertuan saat
menyapu teras rayon, yang kuingat dari secarik kertas itu adalah Hal-hal yang
susah untuk dilakukan : 1. Menjaga wudlu ...,...dst
Aku mengingat yang satu ini karna memiliki urutan teratas
dan mengingatkanku pada sebuah cerita guruku. Guruku pernah bilang, dulu di
Darussalam beliau pernah punya murid yang selalu menjaga wudlu.nya, setiap kali
batal pasti dia wudlu lagi. Dia selalu dalam keadaan suci. Hmmm aku ingin
seperti dia
Aku juga pernah denger kalau orang yang hafidz qur’an bole
masuk surga dengan membawa 6 orang yang di kehendakinya. Yah,. Semoga saja
bisa. Meskipun aku tahu ini tak semudah membalikkan telapak tangan.
Ukhti lia juga pernah bilang ke aku, “Anti tu skali kali
mbok ya baca ma’tsurat gitu lo,..”
Semua kulakukan, meningkatkan kwalitas iman. Meningkatkan shalat shalat sunah, dari tahajut sampai dhuha, mengahafal Al-qur’an, membaca
ma’tsurat tiap pagi sebelum lonceng menggelegar bumi. Saat aku takut, saat aku
merasa pagiku berantakan, saat perasaanku tak enak, ku baca ma’tsurat ini,
Alhamdulillah hatiku tenang, makin lama makin nempel ajj, kemana mana pasti ku
bawa.
Dan akhirnya aku paham maksudnya. Ya aku paham. Ma’tsurat
ini pemberian dari wali kelasku, usth.Asri Amanah. Di cover ini ada garis garis
yang biasanya dibawahnya ada sederetan angka yang merupakan kode struck
sehingga dapat di ketahui harganya, namun di cover ma’tsurat ini bukan
sederetan angka, tapi justru nama kita. Awalnya ku kira“Ah, paling Cuma cari kreativitas
baru dalam pemberian nama pada sebuah barang,” pikirku dulu yang begitu
dangkal,.Tapi ternyata sekarang aku paham ada maksud lain yang terkandung di
dalamnya. Di situ sederetan angka yang menunjukkan harga di ganti dengan
namamu, berarti harga ma’tsurat itu bukan bergantung pada kode kode angka lagi,
melainkan bergantung pada dirimu. Seberapa sering kamu membacanya, semakin
sering maka akan semakin berarti dan berharga bagimu, ini bukan soal materi
tapi hati. Semakin sering di baca, semakin bayak pahala, begitu juga
sebaliknya.
Tunggu,... bukankah barang seperti ini juga termasuk amal
jariyah? Suatu amalan yang akan terus mengalir . Jadi setiap aku membacanya,
orang yang memberi ini juga akan mendapat pahala. Ya, sekarang aku paham,..
Suatu hari, mudabbirohku nanya, “eh ada yang punya ma’tsurat
gk?”
“oh iya ada. Limadza ukh,.?”
“asta’ir ya,.?”
“iya, ini,.” Jawabku penuh antusias dengan sepoles senyuman.
Eeeee, setelah itu aku gak pernah lagi bisa menyentuh
ma’tsurat itu, pernah aku tanyain tapi dia selalu menjawab dengan seribu
alasan,hupht,. Mana waktu itu uda gak ada lagi di MM.
Huaaaaa,,. Pengen nangis, tapi ku kira itu hanyalah hal
bodoh, bahkan lebih bodoh dari mengubah tongkat menjadi ular berkepala kuda.
Tapi setelah waktu yang cukup lama, aku menemukan
ma’tsurat baru, tapi rasanya beda, tak seperti yang dulu, tak ada garis garis
dengan namaku,. Ini beda,.. Ya Allah kenapa Engkau selalu mengambil sesuatu
yang berarti bagiku,.? Inikah ujianmu, tuk meningkatkan kwalitas imanku?,.