Blogger Widgets

Minggu, 21 Juli 2013

Al-ma'tsurat kecil



Tak ada kalimat yang terucap kecuali ayat ayatNya, yang terlantun merdu dan syahdu. Semua anak sedang khusyu’ menyelami kitab suci yang menyentuh hati. Dalam ketenangan ini, tiba tiba aku tersadar, 2 tahun sudah aku mengukir sejarah di dinding dinding Darussalam, tapi ternyata ukiran itu hanyalah ukiran debu yang akan hilang tertiup angin malam. Tak seperti Thomas Edison yang terkenang sepanjang masa karena lampu pijarnya, ato Alexander Graham Bell dengan pesawat teleponnya, tak ada yang istimewa dalam diriku.
Nikmat memang memandangi sebuah bukit tinggi yang penuh dengan bunga warna warni, tapi jika kau buta, apalah yang bisa di nikmati. Aku terlalu fokus dengan sesuatu yang tak pernah bisa kucapai bahkan kusentuh,hingga ku mengabaikan semua hal indah di sekelilingku. Dan kini aku baru saja tersiram air salju yang membelalakkan mataku.
Aku sudah sampai di tengah, tinggal 2 tahun lagi. Tapi apa yang kudapat dari setengah perjalanan itu? Semua berlalu begitu saja di depanku. Seperti orang buta yang berlalu melewati kebun bunga. Ya Allah, smua orang begitu berharap padaku? Tapi apa yang kudapat? Apalagi ini adalah tahun terakhir dimana aku bisa ikut berkecimpung dalam sebuah kompetisi. Ok. Tak ada waktu tuk menyesalinya, sekarang saatnya melakukan, perubahan ya perubahan, itulah yang harus kulakukan. Dan memanfaatkan secuil kesempatan.
**************
Waktu pun berlalu, DG gagal, KMI prima, hanya sampai semi final. Hifdzunnusus, ah aku tak terlalu berharap pada yang satu ini. Karna aku tahu aku lemah dalam hafalan, apalagi dalam waktu singkat dan materi segudang. Dan HASILNYA NOL,..!! Tak apa, karna aku masih punya rencana B..!!
Jika aku tak dapat membahagiakan orang tuaku di dunia, maka aku ingin membahagiakannya di akhirat. Aku ingin lebih dekat denganNya. Aku ingin seperti Uwais Al-Qarni, sosok yang biasa saja di bumi tapi begitu terkenal di masyarakat langit. Aku pernah membacanya di sebuah majalah yang tersungkur  di depan rayon, diantara sampah sampah kering, dan dibiarkan terbuka begitu saja. Ya, Aku ingin sepertinya.
Aku juga pernah menemukan secarik kertas tak bertuan saat menyapu teras rayon, yang kuingat dari secarik kertas itu adalah Hal-hal yang susah untuk dilakukan : 1. Menjaga wudlu ...,...dst
Aku mengingat yang satu ini karna memiliki urutan teratas dan mengingatkanku pada sebuah cerita guruku. Guruku pernah bilang, dulu di Darussalam beliau pernah punya murid yang selalu menjaga wudlu.nya, setiap kali batal pasti dia wudlu lagi. Dia selalu dalam keadaan suci. Hmmm aku ingin seperti dia
Aku juga pernah denger kalau orang yang hafidz qur’an bole masuk surga dengan membawa 6 orang yang di kehendakinya. Yah,. Semoga saja bisa. Meskipun aku tahu ini tak semudah membalikkan telapak tangan.
Ukhti lia juga pernah bilang ke aku, “Anti tu skali kali mbok ya baca ma’tsurat gitu lo,..”
Semua kulakukan, meningkatkan kwalitas iman.  Meningkatkan shalat shalat sunah, dari tahajut sampai dhuha, mengahafal Al-qur’an, membaca ma’tsurat tiap pagi sebelum lonceng menggelegar bumi. Saat aku takut, saat aku merasa pagiku berantakan, saat perasaanku tak enak, ku baca ma’tsurat ini, Alhamdulillah hatiku tenang, makin lama makin nempel ajj, kemana mana pasti ku bawa.
Dan akhirnya aku paham maksudnya. Ya aku paham. Ma’tsurat ini pemberian dari wali kelasku, usth.Asri Amanah. Di cover ini ada garis garis yang biasanya dibawahnya ada sederetan angka yang merupakan kode struck sehingga dapat di ketahui harganya, namun di cover ma’tsurat ini bukan sederetan angka, tapi justru nama kita. Awalnya ku kira“Ah, paling Cuma cari kreativitas baru dalam pemberian nama pada sebuah barang,” pikirku dulu yang begitu dangkal,.Tapi ternyata sekarang aku paham ada maksud lain yang terkandung di dalamnya. Di situ sederetan angka yang menunjukkan harga di ganti dengan namamu, berarti harga ma’tsurat itu bukan bergantung pada kode kode angka lagi, melainkan bergantung pada dirimu. Seberapa sering kamu membacanya, semakin sering maka akan semakin berarti dan berharga bagimu, ini bukan soal materi tapi hati. Semakin sering di baca, semakin bayak pahala, begitu juga sebaliknya.
Tunggu,... bukankah barang seperti ini juga termasuk amal jariyah? Suatu amalan yang akan terus mengalir . Jadi setiap aku membacanya, orang yang memberi ini juga akan mendapat pahala. Ya, sekarang aku paham,..
Suatu hari, mudabbirohku nanya, “eh ada yang punya ma’tsurat gk?”
“oh iya ada. Limadza ukh,.?”
“asta’ir ya,.?”
“iya, ini,.” Jawabku penuh antusias dengan sepoles senyuman.
Eeeee, setelah itu aku gak pernah lagi bisa menyentuh ma’tsurat itu, pernah aku tanyain tapi dia selalu menjawab dengan seribu alasan,hupht,. Mana waktu itu uda gak ada lagi di MM.
Huaaaaa,,. Pengen nangis, tapi ku kira itu hanyalah hal bodoh, bahkan lebih bodoh dari mengubah tongkat menjadi ular berkepala kuda.
Tapi setelah waktu yang cukup lama, aku menemukan ma’tsurat baru, tapi rasanya beda, tak seperti yang dulu, tak ada garis garis dengan namaku,. Ini beda,.. Ya Allah kenapa Engkau selalu mengambil sesuatu yang berarti bagiku,.? Inikah ujianmu, tuk meningkatkan kwalitas imanku?,.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

document : http://magazineticker.blogspot.com/2012/07/cara-mudah-membuat-burung-elang.html#ixzz237GAij00