Kududuk termangu di sini, memandang sekolahku yang terhampar luas. Hijau
rumput menyelimuti tanah merah sang bumi pertiwi. Bunga-bunga merekah
memamerkan mahkota bunga dengan bangga. Udara sejuk yang menyentuh kulit
membuat suasana begitu hidup dan segar.
Seperti biasa, anak-anak berseragam putih biru membanjiri tempat ini. Yach,
tempat dimana kita menuntut ilmu. SMA Jaya Kusuma. Jauh dari sini ku dapati jo
berjalan entah kemana. Diam-diam kulirik dirinya. Ada perasaan lembut membelai
hatiku. Tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata, ku tak mengerti.
Dalam hati pun aku bertanya-tanya, apakah kamu diam-diam juga melirikku?
Memperhatikanku?? Memandangku dengan malu-malu?? Tapi kau tak mau mengakuinya
dan menututupi smuanya serapi mungkin.?? Sama halnya denganku??
“jo,kok pakai jaket terus ya?”
“Iya, kok enggak di lepas-lepas.”
“Gak dimarahin apa?”
“entahlah”
Perbincangan teman-temanku masuk ke dalam telingaku, melewati lorong-lorong
dan sampai ke otak. Mungkin mereka tak sadar, kalau dalam diamku ku juga
menguping pembicaraan mereka, atau mereka tak peduli karna hal yang di omongkan
juga bukan sesuatu yang rahasia, general ajj lah,. sesuai dengan kelihatannya.
Iya ya, kenapa aku baru nyadar? Gumamku. Dengan segera otakku mulai melakukan
suatu diagnosa masalah. Dimana menyusun formula-formula bukti yang merujuk, dan
menggabungkan setiap elemen-elemen kemungkinan. Dan aku menduga,... Johan
sakit??. Kalau kita analisa, Selama di arena sekolah kan tidak boleh
menggunakan jaket, kecuali sakit. Dan itu pun harus ada surat keterangan dari
dokter. Sementara Johan,... “ah” desahku.
Pemandangan alam yang di suguhkan di depanku tak lagi indah. Hatiku bergetar
dan merasakan suatu kebimbangan, fikiranku mulai melayang-layang tak
terkendali. Perasaanku tak enak. Aaakuu.. aku mengkhawatirkanmu Jo..
**********
Tak ada yang ku kerjakan di sini, kulalui detik-demi detik di depan layar
monitor. Entah kapan hasil ujian diumumkan, kita hanya menunggu-menunggu dan
menunggu. Diiringi berdoa dengan harapan tinggi.
Ponselku bergetar, kulihat dan ku temukan sebuah pesan singkat dari Jo.
Sya, jangan lupa bernafas, makan dan temenin aku makan yuukkkk. Perutku uda
nyanyi nich. Dan aku maunya di temenin ama sahabat aku Marsya. Marsya, my best
friend. Mau ya?? Mau ya?? Mau ya?? Ku tunggu di kantin.Okey
Ku lirik jam mungil yang melingkar di tanganku. Tak terasa uda berjam-jam
aku pacaran ama laptopku. “y”. Ku send ke nomor jo. Satu huruf. Ya satu
huruf yang berarti persetujuan. Segera ku bereskan semuanya dan segera menyusul
jo.
********
Kehadiranku di sambut hangat olehnya. Senyuman manis mengembang di wajah
cowok kelahiran 7 agustus. Di tariknya sebuah kursi “ Silahkan,..”
Makanan yang kami pesan pun akhirnya menghampiri kami. Ya, dua mangkuk mie
ayam dan 2 gelas jus melon. Aku memang paling nge-fans ama mie ayam. Entahlah,
aku juga nggak ngerti. Takdir kalii yak. Anehnya, sampai detik ini aku masih
blum menyentuh makananku. Fikiranku berlaju tak beraturan, berputar atau saling
berbenturan.
“Sya, kok gak dimakan?”
“Eh,.. iya,. Emm itu lo jo. Aku lagi nge-fans ama sumpit.” Jawabku
asal-asalan
“Ohhh sumpit,. Ini” di sodorkannya sepasang sumpit
“bukan tu,.. masalahnya aku blum lincah.”
“Marsya, gini dech.” Jo menggeser kursinya jauh lebih dekat denganku.
Di pegangnya jari-jemariku, dengan hati-hati dan pelan dan akhirnya sumpit
itu berhasil menggulung mie. Dan siap diluncurkan ke... oh tidak mulut dia, ini
kan mie ku. Gak rela,.. kutarik tanganku. Gelak tawa pun terpecahkan di antara
raut kecewa sebel di muka jo, yang gagal mendapatkan mie ku.
“Gua gak akan tertipu,..!! hahaha” ledekku.
Alhasil kita saling dorong-dorongan berjuang memperebutkan mie tu diiringi
gelak tawa canda. Memang suatu hal yang bodoh dan kekanak-kanakan. Itulah salah
satu kegilaan yang di lakukan sepasang sahabat remaja. Hingga akhirnya
Tes, setetes darah jatuh di punggung tanganku. “darah?” bekikku. Kutatap
wajah oval johan yang memucat. Aku baru teringat sesuatu, ku raih tissue di
meja kantin. Ku usap darah yang mengalir dari hidung mancungnya sementara dia
hanya diam terpaku.
“Jo, loe sakit pa?”
“Sya, gua sakit hati”
“Liver?” tanyaku.
“Dan hati ini akan sembuh jika menemukan pasangannya. Sya, maukah kamu
menyatukan hatimu dan hatiku?”
Aku terbelalak, terkejut sesaat. belum sempat aku berkata apa-apa,
tiba-tiba dia memegang erat tanganku dan melanjutkan kata-katanya.
“Ku rasa hanya hatimu yang akan mampu menemani hatiku,menguatkannya, dan
mengobatainya, karna hatimu begitu tulus dan lembut.”
Ku tersenyum malu dan ku anggukkan kepala “ya, gua mau jadi pacar loe.”
Jawabku pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar